Veda Ega Guncang Jerez Moto3 2026….torehkan record dunia !!!
Jelajahi Topik
Iwanbanaran.com – Cakkkk….Estrella Galicia 0,0 Grand Prix of Spain di Circuito de Jerez – Ángel Nieto, Minggu (26/4/2026), menjadi panggung pembuktian bagi pembalap muda andalan Indonesia, Veda Ega Pratama. Start dari posisi ke-17 yang sangat merugikan, Veda melesat bak roket menyelesaikan balapan di peringkat 6 yang spektakuler.
Lebih membanggakan lagi, hasil ini memperkuat posisinya di kancah dunia. Berdasarkan data World Championship Classification pasca balapan, Veda Pratama saat ini bercokol di peringkat 6 dunia dengan koleksi 37 poin. Meski masih awal musim dan rookie, tren peningkatannya sangat jelas: ia adalah salah satu pembalap dengan lompatan posisi terbanyak dalam balapan ini.
Analisis: Tiga Kunci Kehebatan Veda Pratama
Apa yang membuat Veda begitu istimewa di Sirkuit Jerez? Berikut rincian teknis berdasarkan data resmi MotoGP:
Veda adalah pembalap tercepat di antara seluruh peserta dalam hal kecepatan puncak. Bahkan untuk urusan top speed Veda torehkan rekor dunia dengan all time top speed record Moto3 Jerez. Data Top Speed & Average menunjukkan ia mencatatkan 222,2 km/jam, sendirian di puncak klasemen.
-
Pembanding: Pembalap peringkat 1 (Maximo Quiles) hanya mencapai 219,5 km/jam. Adrian Fernandez (peringkat 2) di 221,7 km/jam.
Dampak: Keunggulan ini memungkinkan Veda menyalip lawan dengan mudah di lintasan lurus panjang Jerez, sebuah senjata utama saat memulai lomba dari belakang.
2. Kemampuan Membaca Balapan (Race Pace) Kelas Dunia
Veda tidak hanya cepat di satu lap, tetapi konsisten sepanjang 19 lap. Catatan Fastest Lap menempatkan Veda di urutan 9 dengan waktu 1’45.077 (lap ke-5).
-
Uniknya, catatan waktu tercepat Veda hanya terpaut 0,523 detik dari fastest lap mutlak yang diciptakan Adrian Fernandez (1’44.554). Artinya, dalam kondisi ideal, Veda mampu menyamai kecepatan para pembalap terdepan.
-
Ia finis hanya +10.027 detik dari pemenang balapan. Sangat tipis untuk ukuran start dari posisi 17.
3. Ketangguhan Mental dan Manajemen Ban
Start dari posisi buncit (baris keenam) biasanya memaksa pembalap memaksakan motor di awal. Namun, analisis Chronological Performance menunjukkan Veda justru melakukan pendekatan cerdas:
-
Lap awal stabil: Di 3 lap pertama, ia tidak ambil risiko berlebihan.
-
Akurasi Pengereman: Data Average Speed di sektor T4 (tikungan terakhir sebelum start/finish) menunjukkan konsistensi tinggi, menandakan ia sangat baik dalam mengerem lambat untuk menyalip di dalam tikungan, bukan hanya mengandalkan kecepatan lurus.
Hasil finis 6 ini bukan hanya tambahan 10 poin, tetapi sebuah pernyataan. Di klasemen konstruktor, Honda (motor Veda) mengoleksi 72 poin, tertinggal dari KTM (95 poin). Namun, Veda menjadi pembalap Honda ke 2 dengan performa terbaik di balapan ini setelah Fernandez, mengungguli rekannya di Honda Team Asia seperti Zen Mitani (P21).
Dengan modal kecepatan puncak tertinggi dan kemampuan menyalip luar biasa, Veda Pratama kini menjadi ancaman serius di setiap seri. Jika ia mampu memperbaiki kualifikasi (start lebih depan), bukan tidak mungkin podium utama akan segera ia raih.
Last….Veda Pratama bukan lagi sekadar pembalap Asia dengan potensi. Ia adalah the real fighter. Start dari posisi 17 dan finis 6 adalah bukti bahwa ia memiliki kombinasi langka: kecepatan pure (top speed)dan kecerdasan balap (race craft). Peringkat 6 dunia hanyalah awal. Target utama sekarang adalah menembus 5 besar klasemen dalam tiga seri ke depan. Goooo Vedaaa…!! (iwb)

