Sulit Nafas, Marquez ternyata pakai Pain Killer dosis tinggi !! Ngiluuuu
Jelajahi Topik
Iwanbanaran.com – Cakkk…mungkin pemenangnya adalah Martin pertama, Pecco kedua dan Oliviera ketiga. Namun suka nggak suka, bintang spot lighnya adalah Marc Marquez. Start dari posisi 13…lalu terseok-seok naik pelan-pelan menyalip Marco Bezzecchi, Binder, Acosta, Alex Marquez, Raul Fernandez dll….menggunakan GP23, Marc bahkan mampu menggeser Vinales. Namun siapa menyangka perjuangannya tersebut tidak mudah sebab Marc akui sulit bernafas sehingga doi menggunakan pain killer tertinggi yang diijinkan di Motogp karena cedera memar rib Cage yang dideritanya. Wihh ngiluuu….
Marc Marquez di Sachsenring tampil cukup impresive setelah membangun rasa percaya dirinya step by step. Lalu marc berhasil meningkatkan ritme walau beberapa kali hampir crash. Mendapatkan cedera lumayan parah dari di tikungan 11, yang diberi nama Ralf Waldmann, Marquez alami highside dari kecepatan 190 km/jam. Juara dunia delapan kali itu terbentur aspal dengan keras, jarinya patah, dan mengalami memar pada tulang rusuk. Diragukan nggak bisa turun balap, Marc akhirnya memutuskan memaksakan diri walau sulit untuk bernafas sekalipun dengan pain killer dosis tinggi….
“Aku membalap dengan pain killer dosis tertinggi yang diijinkan. Jari patahku masih oke….setidaknya rasa sakitnya masih bisa aku terima. Tapi tulang rusuknya…ini sangat menyakitkan. Sebab setiap lima putaran, ketika aku mengambil nafas dalam dan rasa sakitnya meningkat secara signifikan. Untungnya, hanya ada dua tikungan ke kanan di Sachsenring. Jika tidak mustahil aku bisa turun balap. Para dokter mengatakan aku bisa mengambil risiko untuk membalap….
“ Aku dan Stefan memiliki hubungan yang sangat baik. Saat itu terjadi (diganggu Stefan), aku marah. Tapi bukan padanya, karena itu adalah lap terakhirku dan aku mengalami masalah teknis. Insiden seperti itu normal di Sachsenring karena ini adalah trek yang sangat sempit. Dan bagi pembalap wildcard, itu adalah hal yang wajar. bisa sangat sulit untuk menilai seberapa cepat pembalap lain datang. Banyak hal bergantung pada start dan lap pertama karena kalian sulit menyalip hanya pada dua titik, sebelum tikungan terakhir dan pertama. Aku bukan Superman. Aku harus menerimanya dan tetap tenang. Seperti hari ini…aku tidak melakukan sesuatu yang gila, aku membangun hingga batas kemampuanku dan mencoba membangun feeling..
” Yang jelas aku bersyukur…bahwa trek Sachsenring sebagian besar belok kekiri. Sebab jika tidak, kemungkinan besar aku tidak akan membalap sama sekali….” tutupnya…(iwb)