Bukan sekadar jalan-jalan biasa, ini adalah rangkaian acara “Sumpah Pemuda Regional Sumatera 1” yang dikemas bareng para Blogger dan Vlogger nasional. IWB mau review gimana rasanya bikin New Honda Vario EVO 160 ini “kerja keras” menaklukkan rute yang menurut data rundown resminya, jalannya itu masuk kategori “ekstrem”. Kayak apa perjalananya ? mari kita jabarkan kesampeyan cak…
Tapi soal tampang, biarlah mata yang menilai. Yang IWB soroti adalah engine-nya. Mesin 160cc eSP+ ini sudah teruji. Di rute city touring dari Dealer Capella (Simpang 5 Peunayong) menuju SMAN 4 Banda Aceh, IWB bisa langsung merasakan karakternya. Torsi bawahnya kuat, pas buat stop and go di lalu lintas khas Banda Aceh yang mulai padat. Ditambah posisi duduk yang upright, ergonomis banget buat perjalanan jauh. Di SMAN 4 ini IWB dan teman-teman Honda bagi-bagi helm gratis kepada para murid disana agar tetap safety dalam berkendara…
Hari Pertama (27 Oktober 2026): Aksi Sosial dan Menaklukkan Bukit Lamreh



Hari pertama itu kita disuguhi rute CSR yang asyik. Berangkat dari Dealer, melintasi T. D Beureueh (Lampriet) putar balik di Polda Aceh, lalu smooth menyusuri Jl. T. Panglima Nyak Makan. Di sinilah IWB baru sadar, Banda Aceh itu cantik. Monumen dan tugu-tugu kotanya masih kental, udaranya panas namun anginnya bikin adem. Kita sempat menyusuri Aceh dan bahkan mampir dilokasi bukit Lamreh dengan pamandangan luarrr biasa. Laut lepas yang indah banget euy. Menjelang sore, rombongan kembali ke Banda Aceh untuk menunaikan salat Magrib di Masjid Raya Baiturrahman yang megah, ditutup dengan wisata kuliner legendaris Mie Razali dan ngopi santai di Kopi Kuta Alam Roastery
Hari Kedua (28 Oktober 2026): Menyeberang ke Sabang dan Titik Nol Kilometer
Pagi-pagi buta selepas sarapan di Hotel Ayani, rombongan merapat ke Pelabuhan Ulee Lheue untuk naik kapal Roro menuju Pelabuhan Balohan, Sabang. Ini adalah rute sesungguhnya. Rute dari Banda Aceh menuju Pelabuhan Ulee Lheue, lalu menyeberang pakai kapal Roro ke Pelabuhan Balohan (Sabang), dan lanjut ke Monumen 0 KM. Cak rute dari Balohan menuju Monumen 0 KM itu adalah “sekolah” buat handling motor. Jalannya menanjak, menurun, tikungan tajam, dan ada blind spot. Ini yang IWB suka dari Vario EVO 160. Bobot motornya yang nggak terlalu berat dipadu sasis eSAF bikin motor ini lincah banget diajak menaklukkan tikungan. Mesinnya benar-benar rileks untuk melibas tanjakan. Fix…mesin matic 4 katup Honda ini memang makin mumpuni…
Tapi hati-hati, di rundown sudah diingatkan: “Tanjakan & Turunan, Aspal licin berlumut, Pencahayaan Rendah, Jalan sempit, Potensi Blind Spot, Jalan Berlubang, Sampah daun di jalan.” Sumpah, itu bukan ancaman kosong. Beberapa tikungan di jalur menuju Bukit Lamreh itu aspalnya beneran licin karena selain aspalnya memang demikian…banyak daun rontok membusuk namun tetap ditepi jalan. Jadi kita harus hati-hati. Belum lagi dahan-dahan menutupi beberapa badan jalan. Wihhh dramatis tenan !! Di sinilah IWB menguji braking system Vario EVO 160. Kombinasi rem cakram depan-belakang yang dipadu ABS sangat membantu. Saat jalan menurun tajam, IWB tinggal tarik tuas rem …nggak ada drama sliding atau ban mengunci. Mantap!
Destinasi wajib tentu saja Monumen Kilometer Nol (0 KM) Indonesia. Berdiri di tugu ini sambil membentangkan bendera Merah Putih bersama unit Vario EVO 160 memberikan kebanggaan tersendiri bagi nasionalisme kita, cak!
Perjalanan dilanjutkan dengan snorkeling seru di keindahan bawah laut Pantai Iboih. Ini yang bikin touring ini nggak membosankan. Motor diparkir, semua rombongan semangat kesana walaupun cuaca sempet bikin acara hampir batal. Lawong hujan terus cak. Namun IWB memutuskan tidak ikut cak…takut masuk angin. maklum balung tuwo wkwkwk. Teman-teman banyak cerita bahwa Bawah laut Iboih itu luar biasa. Ikan-ikannya gede-gede dan warna-warni, terumbu karangnya masih terjaga. Setelah rombongan puas snorkling dan mandi, kita lanjut riding ke Resto Freddies untuk makan malam. Jaraknya 22,9 KM dengan medan yang naik-turun. Di malam hari, Vario EVO 160 ini kembali unjuk gigi. Lampu depannya yang LED lumayan terang. Pencahayaan rendah di jalur Sumur Tiga bukan masalah. Jujur cak..IWB rada ngilu karena sepinya jalanan Sabang dimalam hari. Seperti teringat pulau Jawa era 1980-an. Senyap dan gelap banget euy. IWB dan rombongan yang dipandu oleh Road Captain (RC) lokal tetap bisa melaju dengan aman. Puass tenan cak. Mampir menikmati panorama eksotis di sekitar Vulkan Jaboi, dan ditutup dengan makan malam romantis di Resto Freddies Sumur Tiga sebelum beristirahat di Mata le Resort…