Iwanbanaran.com – Cakkk….Situasi di Qatar rupanya bukan cuma soal Marquez yang ogah lama-lama di Lusail. Kabar terbaru, seluruh tim MotoGP dikabarkan sudah menerima instruksi darurat dan panduan keselamatan menjelang seri Qatar akhir pekan ini. Bukan main-main, dokumennya sampai berjudul “Internal Shelter Locations” alias lokasi perlindungan internal. Ini bukan briefing biasa soal trek basah atau suhu aspal, tapi soal apa yang harus dilakukan kalau situasi darurat benar-benar terjadi…!!
Menurut laporan jurnalis MotoGP Mat Oxley, dokumen tersebut berisi slide yang menunjukkan area-area di dalam paddock yang bisa dijadikan tempat berlindung. Nggak cuma itu, ada juga panduan tujuh langkah tentang apa yang harus dilakukan jika ada peringatan darurat nasional. Isinya? Mulai dari “segera cari perlindungan”, hindari lift, sampai menuju “bangunan solid” yang sudah disepakati masing-masing tim jika berada di sirkuit. Yang bikin merinding, anggota tim juga diingatkan untuk tidak menyentuh atau memotret puing apa pun. Ya, larangan foto puing itu bukan tanpa alasan, jelas ini protokol yang biasanya muncul di situasi konflik atau ancaman serius.
Konteksnya jelas. Yamaha sudah resmi mundur dari seri Qatar gara-gara kebijakan travel perusahaan di tengah memanasnya situasi Timur Tengah. Keputusan Yamaha itu bikin grid MotoGP menyusut dari 22 jadi 18 pembalap. Tapi pabrikan lain dan sembilan tim tetap melaju ke Lusail International Circuit. Termasuk Marc Marquez, yang dengan jujur bilang kalau dia sebenarnya ingin berada di tempat lain. “Saya datang dengan penerbangan paling akhir dan akan pulang dengan penerbangan paling awal,” kata Marquez. Pernyataan itu sekarang jadi terasa makin masuk akal setelah bocornya dokumen protokol darurat ini.
Yang menarik, pihak MotoGP sendiri belum buka suara secara resmi soal dokumen ini. Tapi kalau instruksi sampai level “jangan sentuh atau foto puing”, itu artinya ada kesadaran penuh bahwa risiko di luar trek bukan main-main. Tim-tim diminta tetap fokus balapan, tapi di saat yang sama harus tahu ke mana harus lari kalau keadaan memburuk. Ini dua hal yang biasanya nggak muncul bersamaan dalam satu akhir pekan MotoGP.
Buat para pembalap dan kru, konsentrasi jadi ujian ganda. Di trek, Marquez cs harus mengunci gelar dan menyelesaikan dua balapan. Di luar trek, mereka harus hafal jalur evakuasi dan lokasi shelter. Jorge Martin yang baru patah pergelangan tangan juga masih harus lolos pemeriksaan medis Jumat dulu sebelum turun. Alex Marquez absen karena operasi bahu dan digantikan Iker Lecuona di Gresini. Ditambah lagi atmosfer yang jelas nggak ideal, akhir pekan Qatar ini jadi salah satu yang paling tidak biasa dalam sejarah MotoGP modern.
Last…buat Marquez, Qatar kali ini bukan sekadar soal balapan. Ini soal fokus, efisiensi, dan pulang cepat. Khas pembalap yang sudah matang tapi tetap nggak mau buang-buang waktu. Gelar kesepuluh ada di depan mata, tapi Marquez tahu betul bahwa di MotoGP, apa pun bisa terjadi sebelum bendera chequered dikibarkan. Dan kali ini, “apa pun” itu bukan cuma soal ban atau cuaca, tapi juga hal-hal di luar trek yang bikin dokumen shelter jadi wajib dibaca. Akhir kata…Fix, Liberty Media memang super sembrono. Entah kenapa Perusahaan asal Amerika ini terkesan otoriter dan tidak perduli masukan walaupun sebenarnya mayoritas team tidak setuju MotoGP Qatar digelar. Pikirannya cuma bisnis dan cari uang cak..amsyong tenan !! Harapan IWB sih semoga saja tidak ada false Flag yang sering dilemparkan Israel…tahu sendiri cak perilaku Kutu Kupret Zionist. Serem euy soalnya kalau beneran rudal diarahkan ke Sirkuit dengan mengatasnamakan Iran dengan tujuan dunia mengutuk Iran. Semoga saja ketakutan kita tidak terbukti…Amin YRA…(iwb)