Iwanbanaran.com – Cakkk…..kabar kurang enak nih buat sampeyan yang sudah muak dengan drama penalti tekanan ban di MotoGP. Isu tekanan ban kembali panas di Mandalika akhir pekan lalu. Pedro Acosta sampai harus sengaja memperlambat dan turun di belakang Marc Marquez berkali-kali cuma buat menaikkan tekanan ban depannya. Jorge Martin juga kehilangan kemenangan sprint karena masalah serupa. Acosta sampai ngomel cak: “pembalap terlihat seperti keledai.” Celakanya cak….Pirelli ternyata dipaksa akan Tetap terapkan Peraturan ” Tire pressure” di 2027 !! Lhoo kok iso ???
Biar sampeyan paham, aturan ini lahir setelah tim-tim main di celah regulasi tekanan ban sejak 2022. Atas rekomendasi Michelin, MotoGP akhirnya bikin aturan tegas: pembalap harus menyelesaikan minimal 30% sprint dan 60% balapan utama dengan tekanan ban depan di atas batas minimum 1,8 bar. Kalau gagal? Penalti waktu 8 detik untuk sprint dan 16 detik untuk balapan utama. Nggak heran cak, pembalap jadi sibuk ngatur ban daripada ngatur balapan.
Pirelli Mau Ubah, Tapi Katanya Dipaksa Tetap Lanjut
Nah ini bagian pentingnya. Mantan crew chief MotoGP, Ramon Forcada, membocorkan sesuatu di podcast Duralavita. Katanya begini cak: “Dari yang saya dengar, Pirelli ingin melakukan sesuatu yang benar-benar berbeda. Saya diberitahu oleh Pirelli akan ada regulasi, tapi tidak akan ada penalti pasca-balapan atau perubahan hasil karena tekanan.”
Caranya sebenarnya gampang menurut Forcada: cek tekanannya sebelum balapan, lalu verifikasi di grid. Masalahnya, verifikasi di grid sangat rumit karena faktor suhu. Analoginya seperti cek bahan bakar cek sejam sebelum balapan, segel tangki, selesai.
Tapi cak, kenyataannya begini: “[Mereka akan tetap memberi penalti] karena mereka dipaksa. Dan lagipula, saya kira mereka tidak mau masuk seperti banteng di toko pecah belah.”
Jadi meski Pirelli mau menghapus penalti, mereka terpaksa mempertahankannya demi stabilitas regulasi.
Pirelli Punya Peluang Lebih Baik
Sebenarnya cak, Pirelli punya modal bagus. Mereka sudah pasok ban di WorldSBK dan Moto2, dan desain untuk MotoGP kabarnya tidak berbasis keduanya—tapi DNA-nya mirip. Yang
bikin optimis: mulai 2027, MotoGP pakai mesin 850cc tanpa ride height device. Artinya beban dan panas pada ban depan bakal lebih terkendali dibanding era sekarang.
Tapi cak, ada catatan pahit. Michelin sebenarnya sudah berencana bikin ban depan baru untuk 2026 yang bisa menghindari masalah tekanan ini. Prototipe sudah dibawa ke tes Misano 2024, awalnya mau dipakai 2025. Masalahnya, tim cuma menghabiskan setengah jam mengujinya—tidak cukup untuk dipakai dengan aman. Akhirnya ditunda ke 2026, lalu dibatalkan total karena kontrak Michelin tidak diperpanjang.
Last….andai MotoGP dulu lebih serius melibatkan tim untuk menguji ban itu, drama Mandalika kemarin mungkin tidak perlu terjadi. Sekarang Pirelli masuk dengan niat baik, tapi tetap “dipaksa” meneruskan penalti yang dibenci semua orang. Jadi cak, apakah tahun 2027 nanti tekanan ban masih jadi momok? Jawabannya: kemungkinan besar iya, setidaknya di awal. Semoga Pirelli dan Dorna bisa duduk bareng dan mencari jalan tengah yang tidak bikin pembalap jadi keledai. Btw…Sampeyan setuju penalti tekanan ban dihapus cak? Tulis di komentar! (iwb)