Jack Miller Bongkar Penyakit Michelin yang Bikin Toprak Sulit !!
Jelajahi Topik
Iwanbanaran.com – Cakkk….Transisi Toprak Razgatlioglu dari dominasi WorldSBK ke kancah MotoGP ternyata jauh lebih terjal dari yang dibayangkan. Dalam tes pramusim 2026 di Sepang, juara dunia Superbike tiga kali ini harus menerima “reality check” setelah terlempar ke posisi bawah klasemen waktu. Masalah utamanya bukan pada kecepatan murni, melainkan pada ban belakang Michelin yang sangat sensitif. Jack Miller Bongkar Penyakit Michelin yang Bikin Toprak Sulit !!
Penyakit ‘Spin’ Michelin: Sekali Tergelincir, Tak Bisa Berhenti
Rekan setimnya di Pramac Yamaha, Jack Miller, memberikan penjelasan teknis yang membongkar perbedaan mendasar antara ban MotoGP (Michelin) dan Superbike (Pirelli). Menurut Miller, ban Michelin memiliki karakter yang tidak pemaaf saat terjadi wheelspin (ban belakang berputar di tempat).
“Masalah terbesar dengan Michelin adalah sekali Anda mulai spin, ban itu tidak akan berhenti berputar sampai Anda masuk ke gigi lima atau enam. Ban terus berputar meski di lintasan lurus,” jelas Miller.
“Itulah masalah terbesar dengan ban Michelin, begitu kamu mulai spin, spin ban ini tidak akan berhenti sampai gigi kelima atau keenam. Bahkan terus spin saat dilintasan lurus. Ini beda dengan Ducati saat membuka gas, semuanya bisa dilakukan dengan sangat halus untuk mencoba mentransfer beban agar tidak mengganggu keseimbangan motor. Itulah masalah terbesar Yamaha [tahun lalu] dengan Inline4 – sangat, sangat, sangat sulit untuk mendapatkan transfer tersebut dan sangat sulit untuk mempertahankan traksi. Jika kalian menciptakan spin lebih awal, penyakit ini akan terus berlanjut.” seru Miller…
Toprak: “Tim Menyuruhku Halus, Tapi Itu Sulit!”
Toprak mengakui bahwa ia sedang berjuang keras mengubah insting balapnya. Di WorldSBK, ia terbiasa menggunakan slide (geseran) ban belakang untuk membantu motor berbelok. Namun, di MotoGP, teknik itu justru menjadi bumerang.
-
Gaya Moto2: Toprak menjelaskan bahwa motor MotoGP harus dikendarai lebih mirip gaya Moto2, di mana pembukaan gas dilakukan dengan sangat lembut dan presisi.
-
Kehilangan Waktu: Meskipun pengereman masih menjadi kekuatannya, Toprak kehilangan banyak waktu di pintu keluar tikungan (corner exit) karena ban belakangnya terus berputar tanpa memberikan dorongan maju yang maksimal.
Toprak mengatakan…
“Ban Pirelli [di WorldSBK], ketika kamu merasakan spin, ban ini mudah dikendalikan. Tetapi ketika Michelin spin ban itu tidak mau berhenti lagi. Kamu perlu berkendara seperti gaya Moto2 dan membuka gas dengan sangat lembut, karena ban ini sangat sensitif. Aku mencoba beradaptasi dengan ini, timku selalu mengatakan ‘berkendara dengan halus’, tetapi mengatakannya mudah!
“Sangat sulit untuk menunggu lama sebelum membuka gas, karena di Superbike aku selalu menggunakan ban belakang untuk berbelok. Aku selalu menggunakan ban belakang untuk meluncur dan mengambil ancang-ancang serta akselerasi yang baik, tetapi MotoGP kebalikannya. Di Thailand, mungkin kami akan mencoba beberapa pengaturan yang berbeda, kami hanya mencoba beberapa bagian baru dan hanya fokus pada mengendarai motor. Tetapi sekarang sepertinya kami membutuhkan pengaturan suspensi yang berbeda, karena aku membutuhkan bantuan untuk berbelok dan cengkeraman yang lebih baik.” serunya…
Hasil Tes yang Menekan Mental
Hasil keseluruhan tes menempatkan Toprak di posisi ke-19, terpaut hampir 2 detik dari Alex Marquez yang menjadi pembalap tercepat. Jarak 0,7 detik dari Alex Rins (pembalap Yamaha tercepat lainnya) menunjukkan bahwa Toprak masih butuh waktu untuk memahami DNA mesin V4 Yamaha yang baru serta sensitivitas ban Michelin.
Toprak bahkan memprediksi bahwa lima balapan awal musim 2026 akan menjadi masa-masa yang sangat sulit baginya. Ia harus “belajar kembali” cara mengendalikan tenaga motor tanpa menghancurkan traksi ban belakang.
Last….Jack Miller bertindak sebagai mentor bagi Toprak selama tes. Miller membiarkan Toprak membuntutinya untuk menunjukkan bagaimana cara “mendengarkan” mesin saat akselerasi. Miller menekankan bahwa rahasia kecepatan MotoGP saat ini bukan hanya soal siapa yang paling berani mengerem, tapi siapa yang paling halus dalam menyalurkan tenaga ke aspal….(iwb)