Iwanbanaran.com – Cakkk….Kabar mengejutkan datang dari paddock MotoGP. Carlo Pernat, sosok veteran yang sudah puluhan tahun malang-melintang di dunia balap, ngasih peringatan serius: Marc Marquez bisa saja meninggalkan MotoGP lebih cepat dari yang dibayangkan. Bukan karena performa menurun, tapi karena tekanan hidup sebagai pembalap makin lama makin brutal. Lho kok bisaaaa ?? simak penjabaran mbah Carlo dibawah ini cak…
Pernat nggak pelit beri pujian buat Marquez. Usai kemenangan di Malaysia, dia bilang pembalap Spanyol itu praktis sudah mengunci gelar dunia ke-10, meski secara matematis belum pasti. “Marc benar-benar memberikan pukulan hampir definitif untuk kejuaraan dunia. Buat yang nggak paham, saya nggak pernah ragu..dia ini frankly seorang Martian. Martian yang datang dengan pesawat angkasa yang indah dan menunjukkan hal-hal luar biasa. Selama dia di sini, dia akan menang, lalu dia akan pergi dengan pesawat angkasanya….” kata Pernat di acara Fast show GPOne edisi pasca-Sepang.
Marquez masih terikat kontrak dengan Ducati sampai akhir 2028. Tapi Pernat yakin dia cuma akan bertahan satu tahun lagi, lalu pergi. Alasannya bukan soal motor atau uang, tapi soal kualitas hidup. Maksude ??
“Menurut saya dia akan pergi. Saya pikir dia akan menjalani satu tahun lagi, tahun depan, karena jelas dia punya kontrak. Namun, dengan semua yang terjadi dengan Liberty Media [pemilik baru MotoGP], terus terang saya pikir Marc adalah salah satu dari mereka yang ingin menghilangkan gangguan. Dengan semua aturan baru yang mereka perkenalkan, latihan di Jumat, Sabtu, 44 start, Marc menyadari bahwa ini bukan lagi kehidupan yang baik sebagai pembalap. Ini kehidupan para pertapa, sangat berbahaya juga dari sudut pandang fisik dan mental. Dia ingin mencapai usia pensiun motor, dalam satu atau dua tahun, dengan sehat,” tukas Pernat.
Waahh…jadi ngono cak, tekanan regulasi yang makin tidak waras, Ini yang jadi inti masalahnya. Pernat menyoroti bagaimana Liberty Media, sebagai pemilik baru MotoGP, terus menambah beban pada pembalap. Sesi latihan Jumat, Sabtu, sprint race 44 start semua itu bikin hidup pembalap makin jauh dari kata normal. Buat Marquez, yang sudah 14 tahun jadi pembalap pabrikan dan sudah mengalami trauma fisik berat terutama sejak 2020, tawaran untuk terus berlomba dengan tekanan yang meningkat jelas makin nggak masuk akal. Yang menarik, Pernat menyebut Marquez sekarang mulai mengambil peran sebagai pemimpin di antara para pembalap. Dia vokal soal berbagai hal, termasuk keluhan tentang jadwal dan aturan baru. Ini sinyal bahwa Marquez bukan cuma mikirin diri sendiri, tapi juga nasib para pembalap secara keseluruhan. “Kamu bisa lihat dia menjadi semacam pemimpin rakyat dalam segala hal,” ujar Pernat…
Last….Kalau Marquez benar-benar pergi akhir 2027, MotoGP kehilangan magnet terbesarnya. Dia bukan cuma juara, tapi tontonan. Orang nonton MotoGP karena ingin lihat Marquez ngelawan batas, entah itu batas motor, batas fisik, atau batas lawan. Tapi di sisi lain, peringatan Pernat ini juga tamparan buat Liberty Media. Kalau pembalap sekaliber Marquez saja mulai berpikir untuk berhenti karena jadwal dan tekanan, apa lagi pembalap-pembalap lain yang nggak punya privilege yang sama? Cak, iki dudu soal Marquez kalah. Ini soal Marquez sudah muak dengan hidup yang terus dipadatkan tanpa memikirkan kesejahteraan pembalap. Kalau Liberty Media nggak mendengar, bukan nggak mungkin kita lihat “Martian” itu pergi lebih cepat dari yang kita siapkan. Hmm…kenapa ya wong Mamarika selalu terkesan otoriter. Piye menurut sampeyan ?? (iwb)