Celakaa !! Toprak Razgatlioglu mulai Frustasi ???
Jelajahi Topik
Iwanbanaran.com – Cakkk….Tes resmi MotoGP 2026 di Sirkuit Sepang menjadi momen pembuktian sekaligus realitas pahit bagi sang juara dunia WorldSBK, Toprak Razgatlioglu. Menjalani debut penuhnya bersama Pramac Yamaha, pembalap asal Turki ini mengakui adanya penurunan motivasi setelah melihat jarak performa yang cukup jauh dengan para pembalap papan atas, terutama armada Ducati. Waduhh celaka cak….apakah Toprak Razgatlioglu mulai Frustasi ???
Realitas Pahit di Papan Bawah
Toprak mengakhiri tes di posisi ke-19 secara keseluruhan dengan catatan waktu terbaik 1 menit 58,326 detik. Hasil ini terpaut hampir dua detik dari Alex Marquez yang memimpin sesi. Bagi pembalap yang terbiasa mendominasi di ajang Superbike, berada di posisi bawah klasemen memberikan dampak psikologis tersendiri.
“Tidak mudah bagi saya melihat diri saya berada di posisi bawah, terutama setelah apa yang saya capai di Superbike. Motivasi saya sedikit menurun karena saya merasa sudah berkendara maksimal, tapi catatan waktunya tidak kunjung datang,” ungkap Toprak.
Kekaguman pada Alex Marquez dan Ducati
Salah satu momen kunci bagi Toprak selama tes adalah saat ia mencoba membuntuti Alex Marquez. Pembalap Gresini Racing tersebut tampil dominan di atas Ducati GP26 dengan catatan waktu 1 menit 56,402 detik.
Toprak menyebut performa Alex dan motor Ducatinya sangat mengesankan:
-
Kecepatan di Tikungan: Toprak mencatat bahwa Ducati mampu menikung dengan sangat halus dan stabil.
-
Akselerasi & Grip: Ia mengagumi bagaimana tenaga Ducati tersalurkan ke aspal dengan traksi yang luar biasa dibandingkan Yamaha M1 miliknya.
Gaya Balap: “Saya melihat Alex berkendara dengan sangat halus, sedangkan saya masih kesulitan memaksa motor untuk berbelok,” tambahnya. Berikut penjabaran lengkap Toprak…
” Aku sudah belajar sesuatu, tapi belum banyak. Aku sedang mencoba mengubah gaya balapku. Aku tidak bisa memungkiri Aku merasa kesal pagi ini karena tidak mendapatkan catatan waktu yang Aku harapkan. Dengan pengaturan (setup) dan ban baru, kami menemukan basis yang bagus pada sore hari, Aku merasa sedikit lebih baik. Hal yang ingin Aku tekankan adalah kami tidak menyentuh suspensi dalam hal pengaturan. Di Buriram, kami akan mengevaluasi komponen baru, karena kami butuh pengaturan yang berbeda dalam hal daya cengkeram (grip) dan kecepatan di tikungan (cornering speed).”
” Dengan ban baru, Aku sempat mengikuti Miller untuk memahami perilakunya di tikungan. Dia sangat kuat di tikungan panjang. Di sisi lain, saat pengereman, hasilnya cukup bagus: Aku kuat, bisa mengerem dengan baik, dan menghentikan motor. Masalahnya adalah di tikungan panjang, Aku masih kesulitan memahami cara menaklukkannya karena Aku tidak bisa membawa dengan kecepatan penuh. Aku juga harus bisa menggunakan rem dengan lebih baik. Aku butuh lebih banyak waktu.”
” Kami akan mencoba pengaturan lain di Thailand, karena kami tidak banyak menyentuh suspensi di sini. Kami hanya akan mencoba beberapa komponen baru dan fokus utama pada cara berkendara. Saat ini, sepertinya kami butuh pengaturan yang berbeda; Aku butuh lebih banyak kecepatan di tengah tikungan dan saat masuk tikungan. Aku berharap bisa mencetak waktu 1’57”, 1’57″7 atau 1’57″6, tapi itu sangat sulit. Motivasiku juga menurun saat melihat catatan waktu tersebut tidak kunjung datang. Di awal hari, saya menemukan ritme, tapi hanya ketika menggunakan dua ban baru. Saya mencetak 1:58.3. Jika bisa tembus 1:57, itu akan bagus bagi saya, tapi saya butuh waktu untuk memahaminya.”
” Dengan ban baru Michelin, sangat sulit untuk memahami momen yang tepat untuk membuka gas. Di Superbike, Aku selalu menggunakan ban belakang, baik saat masuk tikungan maupun akselerasi, sedangkan di MotoGP justru sebaliknya. Aku harus berkendara lebih seperti di Moto2, menggunakan bukaan gas yang sangat halus, karena ban Michelin sangat sensitif. Seperti yang Aku katakan, Aku mencoba beradaptasi, tapi setelah dari Superbike itu tidak mudah. Tim selalu menyuruhku berkendara lebih halus, tapi itu lebih mudah diucapkan daripada dilakukan.”
” Aku belum menemukan gaya berkendara yang tepat di MotoGP. Aku membalap masih pakai gaya Superbike. Aku merasa nyaman dengan bagian belakang, tapi masalahnya adalah Aku kesulitan di tikungan cepat dan di lintasan lurus, sehingga gaya alamiku tidak keluar. Yang pasti Tidak mudah bagiku melihat diri sendiri di posisi bawah, terutama setelah hasil yang Aku raih di Superbike. Tapi Aku mencoba belajar secepat mungkin. Aku berharap bisa berkembang, Aku belum tahu bagaimana caranya, tapi Aku mencoba menekan setiap hari.”
” Sayang ban Michelin sangat berbeda dengan Pirelli. Dengan Pirelli, saat kamu merasakan dorongan, ban lebih mudah dikelola. Sebaliknya dengan Michelin, saat ban mulai mendorong, rasanya tidak tenang. Sulit untuk dipahami. Pembalap lain sudah mengetahuinya, jadi lebih mudah bagi mereka, tapi bagiku ini rumit karena Aku kurang pengalaman. MotoGP vs Superbike semuanya berbeda total. Aku bilang 50-50. Aku masih bisa menikmati pengereman, tapi menjaga kecepatan itu yang sulit. Pagi ini Aku melihat Alex Márquez: motornya berbelok dengan sangat baik dan memiliki akselerasi yang hebat, dia mampu memaksimalkan daya cengkeram. Sulit bagiku untuk meniru gaya itu, terutama untuk 4-5 balapan pertama….
” Tentu saja, Aku ingin membalap seperti dia juga, tapi motor tidak berhenti seperti yang Aku inginkan dan kami kehilangan sesuatu. Ini juga masalah pengaturan, bukan hanya gaya balap. Jadi kami harus menemukan solusi untuk balapan nanti. Aku masih perlu memahami ban dengan lebih baik, terutama dalam simulasi balapan. Aku masih belum tahu apa potensi motor setelah 12 putaran. Di Thailand, Aku mungkin akan mencoba simulasi balapan.”
“Aku sudah mencoba aero belakang dua hari lalu dan akan mencobanya lagi di Buriram. Perasaannya bagus karena memungkinkanmu memahami perilaku motor. Dengan jok rendah, Aku merasa lebih nyaman, terutama di tikungan, Aku memahami motornya. Saat joknya terlalu tinggi, rasanya berbeda. Saat ini, Yamahaku seperti ‘motor touring’. Aku harus merubah stang tinggi lagi untuk menemukan perasaan yang Aku butuhkan.”
” Dengan MotoGP Beberapa hari pertama sangat berat. Dalam tiga hari pertama tes, Aku tidak bisa rileks di atas motor. Di Superbike, mudah untuk melakukan banyak putaran, tapi di sini berbeda, terutama dalam cuaca panas. Aku selalu merasakan batasnya, Aku tidak bisa rileks, dan itu sulit. Aku lelah. Tapi Aku sudah memperkirakan kesulitan-kesulitan ini.” tutup Toprak…
Masalah Adaptasi dan Teknis
Toprak mengakui bahwa gaya balap agresifnya di WSBK—yang terkenal dengan stoppie dan pengereman ekstrem—belum sepenuhnya efektif di MotoGP. Beberapa kendala yang ia hadapi antara lain:
-
Karakter Ban: Kesulitan memahami limit ban Michelin yang sangat berbeda dari Pirelli.
-
Corner Speed: Motor Yamaha M1 membutuhkan kecepatan tikungan yang tinggi, sementara Toprak merasa motornya “menolak” untuk berbelok sesuai keinginannya.
-
Masalah Aero: Toprak sempat melakukan beberapa sesi tanpa rear wings karena masalah ergonomi posisi duduk yang terlalu tinggi, yang memengaruhi stabilitas motor.
Prediksi Awal Musim yang Berat
Dengan jujur, Toprak memprediksi bahwa lima balapan pertama musim 2026 akan menjadi masa-masa yang sangat sulit baginya. Fokus utamanya saat ini adalah mengubah total setup suspensi agar membantu motornya berbelok lebih baik. Meskipun merasa “demotivasi” saat ini, ia tetap berkomitmen untuk terus beradaptasi sebelum seri pembuka di Buriram, Thailand. Wahh mulai frustasi cak kayaknya Toprak…semangattt terus pokokee !! (iwb)