iklan iwb

Iwanbanaran.com – Cakkk….siapa yang nggak kenal Davide Brivio. Pengalamannya tidak perlu di ragukan karena dialah yang berhasil membujuk Valentino Rossi untuk bergabung bersama Yamaha ditahun 2004. Mereka bersama hingga tahun 2010 sebelum posisi Brivio digantikan Lin Jarvis karena resign. Namun di tahun 2015 Brivio bergabung bersama Suzuki dan merayakan kemenangan juara dunia 2020 yang menjadi tonggak sejarah luar biasa bagi seorang Brivio. Walau sekarang tidak lagi di MotoGP dan sibuk di dunia F1, Brivio masih memberikan perhatian diajang ini. Dan menurutnya kegagalan pabrikan Jepang melawan Eropa adalah cara kerjanya. ” Mereka harus berubah…” serunya. Wahh emang piye maksude ?

Tidak bisa kita pungkiri bahwa para kru yang ada di pabrikan Jepang mayoritas merupakan orang Italia ataupun Spanyol. Dari sana mereka paham betul bagaimana cara kerja orang Jepang dibandingkan dengan Eropa. Terlepas dari Performa motor menurut David Brivio, ada faktor fundamental yang mereka harus rubah. Terutama dari cara kerja di mana orang orang Eropa jauh lebih agresif, dan ini merupakan perbedaan yang sangat besar antara orang Jepang dengan Eropa. Praktis pengembangan motor pun jadi jauh lebih cepat dibandingkan dengan pabrikan Jepang…..

Cara kerjanya berbeda. Orang Eropa melakukan pendekatan balapan dengan segala cara untuk memiliki motor yang semakin kuat. Mereka tidak meninggalkan kebutuhan bisnis namun mereka terus memikirkan solusi baru. Kalian lihat Ducati juga Aprilia dan KTM… Mereka mampu membuat analisis data yang semakin canggih. Sementara pabrikan Jepang masih bekerja dengan cara yang sama seperti yang mereka lakukan 15 tahun yang lalu. Cara kerja tradisional yang membuat analisa data jadi tidak komprehensif. Lalu yang kedua adalah koneksi….

iklan iwb

“Produsen Eropa memiliki hubungan langsung dan konstan antara lapangan dan pabrikan. Sedangkan pabrikan Jepang, tim di trek tidak meneruskan data yang cukup tepat dan detail kepada mereka yang bertanggung jawab di Jepang. Dan gaya ini membuat Yamaha dan Honda sekarang harus membayar harga tsb. Padahal Tim di trek harus menjadi bagian integral dari program MotoGP, jadi harus ada kerja sama yang erat antara mereka yang berada di pusat dan mereka yang berada di trek. Mereka seharusnya tidak lagi menjadi dua kelompok yang berbeda….” serunya. Davide menekankan, keberhasilan Ducati bukan hanya masalah teknis namun cara kerja yang membuatnya efisien dan juga tepat sasaran….

Ducati menikmati keunggulan aerodinamis diawal memang iya…..tapi ini hanya hasil dari cara kerja yang berbeda. Jadi mereka (Jepang) harus berubah jika ingin mengejar pabrikan Eropa…” tutupnya. Sebuah opini dan kritikan pedas yang harusnya disikapi positif oleh pabrikan Jepang…..(iwb)

 

11 COMMENTS

  1. Pabrikan eropa baru juara sekali dalam 1 dekade ini dibantu regulasi dorna sampe 8 motor, ecu bikinan benua dia belagu koar koar bilang pabrikan jepang kurang inovasi lah, kurang komunikasi lah, kurang berani lah, padahal 10 dekade ini pabrikan eropa cuma jadi papan tengah bahkan papan bawah 😃 ngelawak kebangetan. Honda yamaha yg jurdun berapa kali aja diem diem aja ga banyak gaya. Sampe segitunya mau ngalahin jepang sampe oprek regulasi sana sini. Malu 😃

    • Cieee……belajar sejarah lagi Tonk. Eropa selalu lebih unggul, tauk gak sih. Katrok dipiara?

    • honda dan yamaha sangat bermurah hati dengan membuang ECU pabrikan masing2, mau menerima regulasi konsesi, mentaati regulasi batasan dana, semua demi agar pabrikan lain bisa lebih kompetitif. Agak lucu jg sih balap para raja kok ECU dan ban dipaksa seragam, sekalian aja bikin 1 mesin biar lengkap wkwk.

  2. Eropa dalam semua aspek kehidupan kalau sudah niat, ngeriiiihh…. Gak da yg jabanin. Technology, science, food baverage kulinary, hobbies, arts n music, fashion etc etc lahhh
    Bangga ada sodara yang jadi warga negara Deutschland dahh….♥️♥️🤩🤩

  3. Joss gandhoss sekali semoga semakin memanas persaingan Jepang eropanya ya kakaa…. penonton yang diuntungkan soalé 😂 wkwkwkwkwk

Comments are closed.